Menu
Sekilas Tentang Diabetes Mellitus

Sekilas Tentang Diabetes Mellitus

Umumnya Diabetes dit...

An Introduction to Forex

An Introduction to Forex

Forex Defenition ...

What Exactly is Forex PAMM System?

What Exactly is Forex PAMM System…

Being one of the lar...

Hypnotherapy

Hypnotherapy

Hypnotherapy ada...

Manfaat dan Ruang Lingkup Akupunktur

Manfaat dan Ruang Lingkup Akupunk…

Akupunktur merupakan...

Diare Persisten Pada Anak

Diare Persisten Pada Anak

Diare persisten ...

Merencanakan Jenis Kelamin Anak

Merencanakan Jenis Kelamin Anak

Kelahiran anak dalam...

Underlying Causes of Trading Failure

Underlying Causes of Trading Fail…

So far we have loo...

Prev Next
Log in Register

Login to your account

Username
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name
Username
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *

Garin Nugroho Tegaskan Soegija Bukan Film Agama

Discussion started by christine lopulalan, on 11 months ago

Related discussion

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Di saat bioskop sedang sepi dengan film bermuatan sejarah, Soegija muncul sebagai satu-satunya film nasional yang dituturkan dengan pendekatan sejarah popular-romantis.

Film ini mengisahkan tentang Romo Soegijapranata, yang diangkat Vatikan sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia.

Banyak orang mengira film yang disutradarai Garin Nugroho merupakan film tentang agama. Hal ini langsung dibantah Garin. Ia mengatakan, film ini lebih bercerita dalam konteks humanis.

"Sejarah kan punya beragam kepemimpinan, termasuk kepemimpinan uskup. Soegija merupakan salah satu pahlawan nasional," ujar Garin pada jumpa wartawan di Ciwalk XXI Lounge, Minggu (10/6/2012) sore.

Di jajaran pemain, ada Nirwan Dewanto sebagai Soegija, Annisa Hertami sebagai Mariyem, Butet Kartaredjasa sebagai Koster Toegimin, Wouter Braaf sebagai Hendrick, Wouter Zweers sebagai Robert, Nobuyuki Suzuki sebagai Suzuki, Andrea Reva sebagai Ling Ling, Olga Lydia sebagai mama Ling Ling, dan masih banyak pemain lainnya.

Film ini mengisahkan kondisi Indonesia pada 1940 hingga 1950, saat terjadi penjajahan Belanda, pengambil alihan kekuasaan oleh Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.

Soegija yang diangkat menjadi pemimpin umat Katolik kala itu, ikut berjuang dengan silent diplomacy-nya. Ia melakukan perundingan damai yang melibatkan Sekutu, Jepang, dan Indonesia di tengah perang yang terus berlangsung.

Ia pun berkomunikasi dengan pimpinan Indonesia seperti Syahrir dan Soekarno. Di sisi lain, ia pun mendukung gerakan pemuda untuk melakukan pelayanan sosial kepada masyarakat.

Tapi, film ini bukan sekadar mengisahkan perjuangan Soegija seorang. Banyak tokoh lain dengan permasalahannya masing-masing. Betapa kejamnya perang hingga harus memisahkan mereka dengan orang yang mereka kasihi.

Ada Mariyem, seorang wanita muda yang bercita-cita menjadi perawat, yang harus terpisah dengan sang kakak; Suzuki, serdadu Jepang yang merindukan anaknya; dan Robert, serdadu Belanda yang berhati dingin.

Ada pula Hendrick, fotografer Belanda yang terjebak dalam perang dan cinta; Ling Ling, gadis cilik keturunan Tionghoa yang harus terpisah dengan sang ibu; dan kisah kemanusiaan lain yang dibalut dalam drama dengan unsur komedi di beberapa bagian.

Film kolosal yang menghabiskan dana hingga Rp 12 miliar memang terbilang luar biasa. Setting tempat zaman penjajahan dengan lebih dari 2.700 pemain figuran, sengaja dihadirkan untuk menghidupkan suasana.

Pemeran serdadu Jepang dan Belanda adalah pemain asli dari kedua negara itu, yang di-casting langsung di negara masing-masing.

Pemilihan lagu-lagu dan musik dalam film ini pun tidak main-main. Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik sekaligus produser Soegija tidak hanya memasukkan lagu-lagu kebangsaan, tapi juga memasukkan unsur lagu-lagu yang sedang popular di masa itu.
Salah satu yang menjadi keunikan di film ini adalah tiga bahasa yang digunakan, Jawa, Belanda, dan Inggris.

Dibandingkan dengan karya Garin Nugroho lain, film berdurasi 115 menit terbilang lebih naratif. Hal ini, menurutnya merupakan sesuatu yang sudah disesuaikan dengan tujuan.

"Tujuan dari film ini kan untuk menginspirasi masyarakat. Metode naratif itu memang metode yang paling efektif," jelasnya. (*)

You need to be a member of this group before you can participate in this discussion
christine lopulalan
christine lopulalan
sip... proficiat untuk Garin..
11 months ago
christine lopulalan
christine lopulalan
tapi di sisi lain... film ini jadi lebih netral dilihat masyarakat..
11 months ago
christine lopulalan
christine lopulalan
orang pasti bertanya tanya... kok Garin bisa bgitu?
11 months ago
christine lopulalan
christine lopulalan
orang pasti bertanya tanya...
11 months ago
christine lopulalan
christine lopulalan
hebat.. Garin melakukan langkah lintas agama..
11 months ago

Sections

Shows

Local News

Tools

About Us

Follow Us

This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com