Public Article

Public's Articles

Blog ini dibuat khusus bagi yang suka membaca dan menulis artikel. Tulisan-tulisan yang dibuat selain oleh Admin Website bukanlah artikel resmi dari website ini. Administrator website berhak untuk merubah dan merapikan artikel-artikel yang ditulis. Lengkapilah profil anda, seperti nama, alamat, foto profil, cover, dll. Hanya artikel-artikel yang ditulis oleh penulis yang profilnya sudah lengkap yang akan ditampilkan di website ini.

Obesitas, Metabolisme dan Golongan Darah

Hampir di sepanjang sejarah, manusia berjuang melawan kelaparan. Orang yang memiliki paling banyak otot pada tulang mereka adalah orang-orang yang mampu bertahan hidup. Wanita berpinggul dan berpaha lebar lebih baik dalam hal menyediakan lemak yang diperlukan untuk perkembangan janin dan produksi susu yang cukup bagi bayi yang sedang tumbuh.  Jadi, pertambahan berat badan memiliki banyak nilai tambah, dengan menjadi sumber energi simpanan untuk menghadapi masa kelaparan. Ini adalah cara alami untuk menjamin kelestarian ras manusia.

Di  jaman sekarang, malah banyak orang berjuang melawan kegemukan. Walaupun sudah tidak aneh lagi, tapi jelaslah bahwa Obesitas adalah suatu fenomena yang relatif baru. Obesitas dimasukkan dalam kategori malnutrisi, atau kesalahan dalam nutrisi. Maka Malnutrisi kini ada dua macam, kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Saat ini, tepatnya di belahan dunia barat, malnutrisi tidak ditandai oleh langkanya makanan, melainkan oleh ketidakmampuan tubuh  untuk memanfaatkan banyaknya makanan yang ditelan. Pada intinya, obesitas adalah suatu kondisi nutrisi yang kurang baik, yang mengganggu keseimbangan hormon.
Ketidakseimbangan hormon ini mempengaruhi metabolisme sehingga orang kesulitan untuk menurunkan berat badan, bahkan dengan diet yang kalorinya sangat rendah sekalipun.


Perubahan Keseimbangan Metabolisme
Begitu seseorang mengalami kelebihan berat badan,  maka  akan terjadi perubahan dalam keseimbangan metabolisme tubuhnya dan  akan lebih sulit baginya untuk kembali pada keseimbangan yang normal.  Sesungguhnya, banyak gangguan metabolisme muncul dalam proporsi yang sesuai dengan jumlah lemak tubuh. Metabolisme akan bergeser ke arah normal saat lemak tubuh dikurangi.

Obesitas selalu disertai oleh RESISTENSI INSULIN, yang menyebabkan hiperinsulinemia (kadar insulin yang berlebih di dalam darah). Resistensi insulin proporsinya berbanding lurus dengan jumlah lemak pada organ dalam tubuh (visceral body fat).  Artinya, lemak tubuh meningkat → resistensi insulin juga meningkat.

Dalam suatu tinjauan mengenai obesitas pada anak, para peneliti melaporkan adanya sejumlah penghalang metabolisme pada berbagai sistem endokrin, antara lain :
- pengaktifan hormon tiroid serta produksi hormon stres,
- hormon androgen,
- hormon pertumbuhan dan
- hormon insulin.
Pada anak yang mengalami obesitas, konsentrasi insulin cukup tinggi, baik yang dasar maupun yang terstimulasi (oleh gula ataupun zat tepung). Kondisi  ini juga terjadi pada orang dewasa.


Metabolisme Energi
Pengaturan metabolisme energi pada kondisi obesitas berbeda dari kondisi normal dalam beberapa hal penting, yaitu :


Leptin
Kelebihan berat badan menyebabkan resistensi leptin.  Leptin adalah hormon yang terkait dengan gen obesitas.  Leptin bekerja pada hipotalamus otak untuk mengatur:
- cakupan kadar lemak tubuh,
- kemampuan membakar lemak guna menghasilkan energi, dan
- rasa kenyang.
Ketika anda kelebihan berat badan, kadar leptin anda meningkat, tetapi kerjanya tertekan. Pada obesitas, kadar leptin meningkat seiring peningkatan kadar insulin. Hal ini mengarahkan para peneliti untuk menyimpulkan bahwa resistensi insulin berperan dalam “hormon obesitas” ini.


Kortisol dan Lingkaran Setan Obesitas
Kortisol disebut juga hormon stress. Kelebihan berat badan memicu resistensi kortisol. Biasanya, ketika anda kelebihan berat badan, lama-lama tubuh anda akan menghasilkan kortisol  dalam kadar yang lebih tinggi. Jaringan lemak mempercepat siklus kortisol, mendukung produksi kortison, yang akan merangsang sekresi hormon adrenokortikotropik (adrenocorticotropic hormone/ACTH) dan memelihara stimulasi korteks adrenal. Lebih jauh lagi, kadar kortisol yang tinggi itu sendiri memicu pertambahan berat badan. Ini seperti lingkaran setan.

Kortisol berbeda dengan hormon-hormon steroid yang lain, misalnya hormon seks, yang dikelompokkan sebagai glukokortikoid. Ini berarti kortisol terutama terlibat dalam peningkatan kadar gula darah dalam jaringan otot. Meskipun ini adalah efek yang diinginkan dalam situasi lawan –atau- lari (respon primitif manusia), dalam jangka panjang hal ini akan mengarah pada resistensi insulin dan perubahan komposisi tubuh, baik otot maupun lemak.

Selain itu, para peneliti yakin bahwa kadar kortisol yang tinggi cenderung meningkatkan nafsu makan, karena kortisol memiliki kaitan dengan leptin. Dalam penelitian terhadap hewan, diketahui bahwa kortisol adalah faktor utama yang mencegah  leptin untuk 
1. menurunkan nafsu makan,
2. meningkatkan metabolisme, dan
3. menurunkan lemak tubuh.
Penemuan ini serupa dengan yang dijumpai pada manusia. Secara khusus, hal ini berkaitan dengan golongan darah A dan B yang kadar kortisol dasarnya memang tinggi.


Growth Hormon
Kelebihan berat badan menurunkan kadar hormon pertumbuhan. Kadar ini menurun karena produksi  hormon pertumbuhan (Growth Hormon/GH) turun saat seseorang mengalami obesitas. Bahkan, substansi-substansi yang diketahui dapat meningkatkan produksi GH tidak bekerja dengan baik pada individu yang obesitas dibandingkan individu yang ramping. Hiperinsulinisme dan resistensi insulin juga mengganggu pengaturan hormon. Keduanya meningkatkan kadar faktor pertumbuhan mirip-insulin 1 (insulin-like growth factor 1/IGF-1), yang menghambat produksi hormon pertumbuhan.

Karena hormon pertumbuhan mendukung massa tubuh tanpa lemak, meningkatkan pengubahan hormon tiroid menjadi T3 (hormon tiroid yang aktif secara metabolisme), dan meningkatkan proses-proses yang membakar lemak, maka turunnya kadar hormon pertumbuhan akan berdampak negatif terhadap komposisi tubuh.


Insuline
Seperti telah disebutkan di atas, obesitas juga dapat menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini pada akhirnya dapat membahayakan jiwa. Sejalan dengan waktu, sel-sel beta pankreas terus menghasilkan insulin dalam jumlah yang makin besar. Namun, insulin yang dihasilkan tidak mampu menormalkan kadar gula darah sehingga sel-sel  beta pankreas tersebut akhirnya rusak. Perkembangan menuju diabetes dapat terjadi sejalan dengan waktu. Pada tahap awal, pemeriksaan darah hanya akan memperlihatkan kecenderungan kadar gula darah yang lebih tinggi daripada normalnya, suatu tanda bagi hiperglikemia yang berkepanjangan. Bagaimanapun, jika keadaan ini terus terjadi, kondisi  menuju diabetes mellitus tipe II atau diabetes non-insulin-dependent menjadi lebih mungkin.


Massa jaringan Aktif versus Lemak Tubuh
Aspek pertama yang perlu diperhatikan dalam metabolisme adalah massa otot. Kesehatan dan metabolisme turun bukan akibat kelebihan berat badan, tetapi akibat terlalu banyaknya lemak tubuh dan terlalu sedikitnya otot. Dengan demikian, jauh lebih penting bagi kita untuk mengetahui jumlah massa otot, di samping berat badan secara umum.

Suatu aspek yang amat penting dalam metabolisme dikenal sebagai kecepatan metabolisme dasar (basal metabolic rate/BMR). BMR paling mudah dibayangkan sebagai jumlah kalori yang dibakar sepanjang hari saat beristirahat. Biasanya, BMR cenderung menurun seiring pertambahan usia, di mana kehilangan massa otot hampir menjadi satu-satunya penyebab penurunan yang tampak mencolok ini. Meskipun BMR yang rendah dapat mengindikasikan besarnya kesulitan dalam menurunkan berat badan,kondisi BMR yang luar biasa tinggi juga tidak ideal dari sudut pandang kesehatan, karena hal ini menandai adanya kecenderungan ke arah metabolisme yang agresif atau katabolis. Seperti semua aspek kesehatan yang lain, BMR yang seimbang adalah yang paling ideal. Namun, dengan alasan yang sama, nilai BMR yang lebih tinggi itu lebih baik.

Jaringan yang aktif secara metabolisme didefinisikan sebagai jaringan otot dan jaringan organ, seperti hati, otak dan jantung, yang secara aktif menggunakan energi. Jaringan ini juga sudah lazim disebut sebagai massa jaringan aktif.
Beberapa manfaat dari meningkatnya massa jaringan aktif adalah kekuatan yang bertambah, yang berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik dan usia biologis (biological age) yang lebih rendah,
- BMR yang meningkat ,
- kapasitas penggunaan oksigen yang bertambah,
- kesehatan sistem kardiovaskular yang membaik,
- pemanfaatan gula yang lebih baik,
- peningkatan penyimpanan kolesterol yang baik,
- kepadatan tulang yang bertambah, dan
- resistensi yang sangat tinggi terhadap pertambahan lemak.

Persentase massa jaringan aktif tubuh yang lebih besar dapat diartikan sebagai metabolisme anti lemak yang lebih agresif. Itu karena, jaringan otot yang lebih banyak sebenarnya meningkatkan kecepatan dan jumlah lemak yang dibakar untuk menghasilkan energi ketika beristirahat.

Memang, komposisi tubuh adalah ukuran persentase otot terhadap lemak. Namun, dalam banyak kasus penurunan berat badan, komposisi tubuh dapat membaik sekaligus kehilangan jaringan ototnya, ini adalah kekurangan terbesar dari diet drastis yang membatasi kalori hingga ke kondisi semi kelaparan. Diet dengan cara ini memang dapat menurunkan persentase lemak dalam jumlah yang cukup besar, tetapi tidak bisa meningkatkan persentase massa jaringan aktif. Kecepatan metabolisme orang yang sedang berdiet tidak berubah, yang menyebabkan mereka mendapatkan kembali berat badan yang sempat hilang, saat pola makan mereka kembali normal.

Faktor kunci yang lain adalah perbandingan jumlah air di dalam sel (intraseluler) dan air di luar sel (ekstraseluler), hal ini berkaitan dengan ukuran hidrasi sel. Dalam keadaan sehat, terdapat suatu kecenderungan untuk mempertahankan jumlah air yang lebih banyak di dalam sel. Nilai air intraseluler sekitar 57-60% itu sudah sempurna. Edema adalah timbunan cairan yang terbentuk di luar sel. Banyak individu yang mengalami obesitas memiliki jumlah air ekstraseluler yang tinggi. Biasanya, hal ini karena adanya:
- kebiasaan mengonsumsi makanan “Yang seharusnya dihindari”,
- gaya hidup yang kurang gerak,
- keracunan atau toksisitas seluler yang tinggi, dan
- tingkat stress yang tinggi.
Banyak orang dengan obesitas memiliki konsentrasi air ekstraseluler berlebih yang mencapai 60-70%, dan konsentrasi air intraselulernya hanya 35%.


Kaitan dengan Golongan Darah
Golongan Darah berpengaruh besar pada keseimbangan metabolisme karena beberapa faktor, yaitu :

1. Dampak diet lektin.
Lektin bekerja khusus dengan golongan darah tertentu, atau sering disebut sebagai “spesifik golongan darah”, dan memiliki efek mirip-insulin terhadap reseptor sel lemak. Namun, tidak seperti insulin— yang memiliki efek sementara pada reseptor tersebut – begitu lektin berikatan dengan reseptor lemak, lektin memberi signal kepada sel lemak untuk berhenti membakar lemak dan menyimpan kalori ekstra dalam bentuk lemak. Akibatnya , konsumsi lektin-lektin tersebut akan menyebabkan tubuh mengumpulkan gula/karbohidrat berlebih dan mengubahnya menjadi lemak yang tidak diinginkan. Mengonsumsi sejumlah besar lektin tertentu yang mirip dengan insulin, dan yang bekerja spesifik dengan golongan darah Anda, akan meningkatkan lemak dalam tubuh dan menurunkan massa jaringan aktif Anda.

2. Pengaruh resistensi insulin yang diatur secara genetis terhadap efisiensi metabolisme.
Banyak individu yang mengalami sindrom resistensi insulin yang dapat mengganggu proses pengubahan trigliserida, yang menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme. Pada gilirannya, metabolisme yang rendah akan mendorong penyimpanan cairan berlebih sebagai air ekstraseluler;  hal ini mengarah pada edema.

3. Pemanfaatan energi yang tidak tepat akibat stress dan olah raga yang tidak tepat.
Kadar kortisol yang tinggi – seringkali dihasilkan dalam jumlah besar pada golongan darah A dan B ketika stress—berdampak sifnifikan pada metabolisme.

4. Faktor genetis ABO
Kondisi sangat stress dapat meningkatkan produksi kortisol pada golongan darah A dan B, yang mengganggu proses pengubahan hormon tiroid. Dari sejumlah penelitian, diketahui bahwa golongan darah A memiliki tingkat metabolisme tiroid yang lebih rendah.

Terapi  Obesitas
Di antara berbagai terapi obesitas yang ada, saat ini akupunktur menduduki peringkat yang cukup tinggi, karena diakui efektivitasnya bukan saja membakar timbunan lemak yang berlebihan, menurunkan nafsu makan penderita, tapi juga sangat membantu dalam mengembalikan keseimbangan metabolisme tubuh yang sudah mengalami perubahan akibat obesitas tersebut.

Terapi akupunktur dalam penerapannya hampir selalu berpasangan dengan pengobatan herbal.

Daftar Pustaka :

1. Adamo, Peter J., dr, bersama  Catherine Whitney : Eat Right for Your Type, Ensiklopedia Lengkap, Diet Sehat Golongan Darah, hal 264 - 267.
 

Rate this blog entry:
The Role of Laboratory Diagnosis in Children with ...
Hari Bakti Dokter Indonesia

Log in

fb iconLog in with Facebook
create an account