Official Article

Pengaruh Terapi Sentuhan Terhadap Kejadian Regurgitasi Pada Bayi Featured

Terapi sentuhan dikatakan mempunyai efek positif pada kesehatan bayi, karena berpengaruh terhadap kerja Nervus Vagus sehinga memperbaiki motilitas saluran cerna termasuk pengosongan lambung. Kedaaan tersebut menyebabkan absorpsi makanan dan kualitas tidur yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi sentuhan terhadap kejadian regurgitasi pada bayi. Penelitian merupakan kasus kontrol yang dilakukan terhadap 40 bayi yang mengalami regurgitasi dan mendapat ASI eksklusif; 20 bayi diantaranya mendapat terapi sentuhan selama 3 minggu dan 20 bayi sisanya sebagai kontrol. Dilakukan penimbangan berat badan, pencatatan frekuensi dan volume regurgitasi, serta lama dan gangguan tidur pada 1 minggu sebelum dan selama penelitian.

 


Penelitian Selengkapnya



PENGARUH TERAPI SENTUHAN
TERHADAP KEJADIAN REGURGITASI PADA BAYI

 

Oleh :

dr. Deddy Satriya Putra, SpA*
dr. Badriul Hegar, SpA(K)**

Fakultas Kedokteran Universitas Riau/Rumah Sakit Dareah Arifin Achmad*
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo**
 
 
Abstrak
Regurgitasi merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada bayi yang mengalami refluks esofagus (RGE). Sedikitnya 25% orang tua menganggap bahwa regurgitasi merupakan keadaan yang mencemaskan yang dihubungkan dengan frekuensi dan volume regurgitasi. Terapi sentuhan dikatakan mempunyai efek positif pada kesehatan bayi, karena berpengaruh terhadap kerja Nervus Vagus sehinga memperbaiki motilitas saluran cerna termasuk pengosongan lambung. Kedaaan tersebut menyebabkan absorpsi makanan dan kualitas tidur yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi sentuhan terhadap kejadian regurgitasi pada bayi. Penelitian merupakan kasus kontrol yang dilakukan terhadap 40 bayi yang mengalami regurgitasi dan mendapat ASI eksklusif; 20 bayi diantaranya mendapat terapi sentuhan selama 3 minggu dan 20 bayi sisanya sebagai kontrol. Dilakukan penimbangan berat badan, pencatatan frekuensi dan volume regurgitasi, serta lama dan gangguan tidur pada 1 minggu sebelum dan selama penelitian. Kesimpulan, terapi sentuhan selama 3 minggu tidak memperlihatkan penurunan frekuensi dan volume regurgitasi serta kenaikan berat badan yang lebih efektif dibanding kelompok kontrol. Walalpun tidak mempengaruhi durasi tidur, jumlah bayi yang terbangun malam hari pada kelompok terapi lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok kontrol.
 
Latar belakang
Regurgitasi merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada bayi yang mengalami refluks gastroesofagus (RGE). Refluks gastroesofagus didefinisikan sebagai kembalinya isi lambung ke dalam esofagus secara involunter tanpa adanya usaha dari bayi, sedangkan istilah regurgitasi digunakan apabila isi lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut.1,2.
Regurgitasi merupakan keadaan fisiologis pada bayi berusia kurang dari satu tahun, terutama kurang dari enam bulan. Keadaan ini akan berkurang sesuai dengan bertambahnya usia.2,3 Sedikitnya 25% orang tua menganggap bahwa  regurgitasi merupakan suatu keadaan yang mencemaskan dan umumnya dihubungkan dengan frekuensi dan volume regurgitasi.4 Data di luar negeri melaporkan 40-60% bayi sehat berumur 4 bulan mengalami regurgitasi sedikitnya satu kali setiap hari dengan volume regurgitasi lebih 5 ml. Frekuensi dan volume regurgitasi berhubungan dengan ketidaknyamanan bayi.5-7 Meskipun merupakan keadaan fisiologis, regurgitasi yang merupakan petunjuk adanya RGE dan perlu mendapat perhatian. Regurgitasi yang terjadi secara berlebihan dan disertai gejala klinis seperti rewel, menolak minum, muntah disertai bercak darah atau gejala respirasi berulang, perlu dipikirkan adanya RGE patologis.1,2,6 Refluks Gastroesofagus patologi merupakan problem utama saluran cerna pada bayi termasuk bayi cukup bulan.3
 Konsensus tata laksana awal regurgitasi pada bayi saat ini terdiri dari parental reasurance dan thickening milk. Thickening milk telah terbukti mempunyai efektifitas yang baik terhadap frekuensi & volume regurgitasi tetapi tata laksana ini tidak dapat diberikan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Meskipun mekanismenya belum diketahui secara pasti, terapi sentuhan atau touch therapy dikatakan mempunyai efek positif pada kesehatan bayi. Terapi sentuhan meningkakan tonus N. Vagus sehingga memperbaiki motilitas saluran cerna termasuk pengosongan lambung. Kedaaan tersebut menyebabkan absorpsi makanan dan kualitas tidur yang lebih baik (tidur lebih nyaman). Tehnik yang diberikan berupa pijatan dengan gerakan mengusap dan meremas bagian tubuh bayi mulai dari wajah sampai ke ujung jari kaki. Oleh karena itu, terapi sentuhan mungkin bermanfaat pada bayi yang mengalami regurgitasi.
 
Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh terapi sentuhan terhadap kejadian regurgitasi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif.
 
Tujuan khusus
  1. Mengetahui pengaruh terapi sentuhan terhadap frekuensi regurgitasi
  2. Mengetahui pengaruh terapi sentuhan terhadap volume regurgitasi
  3. Mengetahui pengaruh terapi sentuhan terhadap lama tidur
  4. Mengetahui gejala klinis yang menyebakan bayi terbangun pada malam hari
 
Metodologi
Penelitian ini merupakan suatu kasus kontrol yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2006 di Kota Pekanbaru, Riau. Besar sampel ditentukan berdasarkan Power penelitian 80% dengan derajat kepercayaan 95% . Kriteria Inklusi: (1) bayi sehat usia 2-4 bulan yang mendapat ASI eksklusif, (2) regurgitasi minimal 4x perhari, (3) berat badan lahir >2500gram, (4) status nutrisi baik (BB/TB >90%, CDC 2000), dan (5) tingkat pendidikan ibu minimal SLTA. Kiteria eksklusif: (1) bayi sedang mendapat obat prokinetik, (2) menderita kelainan kongenital, (3) memperlihatkan gejala klinis RGE patologis (menolak minum, rewel setiap diberi minum, hematemesis, back arching), atau (4) orang tua menolak ikut dalam penelitian. Sampel dibagi menjadi dua kelompok secara konsekutive sampling; nomor urut ganjil sebagai kelompok yang mendapat terapi sentuh dan nomor urut genap sebagai kelompok kontrol.
            Sebelum penelitian dimulai, ibu bayi diberikan pelatihan terapi sentuh selama 3 hari. Terapi sentuh dilaksanakan pada pagi dan sore hari setelah mandi dengan lama terapi 15 menit setiap kalinya selama 3 minggu. Ibu mengisi lembar isian tentang frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi, durasi tidur bayi pada malam hari (pukul 18:00 sampai 06:00) dan gangguan tidur (keadaan yang menyebabkan bayi terbangun pada malam hari) pada seminggu sebelum penelitian dan selama 3 minggu penelitian. Berat badan bayi ditimbang pada hari ke 1, 8, 15, dan 22  penelitian dengan menggunakan timbangan digital baby scale dengan ketepatan 50 gram (MBE Focal, Tokyo).
            Data dianalisis menggunakan uji t untuk kedua kelompok independen untuk melihat perbandingan berat badan, frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi dan lama tidur pada malam hari. Uji x2 untuk menilai perbedaan gangguan tidur pada malam hari dari kedua kelompok dan dikatakan bermakna bila p.<0,05. Analisis data menggunakan SPSS for Windows versi 13.
 
Hasil  
Karakteristik klinis dari kedua kelompok sebelum penelitian dapat dilihat pada tabel  1. Umur, berat badan, frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi, dan durasi tidur pada malam hari dari kedua kelompok tersebut tidak memperlihatkan perbedaan bermakna.
 
Tabel 1. Karakteristik klinis masing-masing kelompok sebelum penelitian
 
 
   Karakteristik
Kelompok
 
D
Terapi
Kontrol
Umur (bulan)
2 bulan
3 bulan
4 bulan
 
15
4
1
 
16
4
0
 
.537
Berat badan
Mean (SD)
Jangkauan
 
5,74 (0,76)
4,20-6,85
 
5,15 (0,91)
3,90-6,60
 
.237
Frekuensi regurgitasi 
Mean (SD)
Jangkauan
 
34,20 (3,19)
30-24
 
34,45 (4,55)
28-44
 
.686
 
Volume regurgitasi (ml)
Mean (SD)
Jangkauan
 
91,5 (26,33)
55-140
 
99,75 (42,22) 40-225
 
.330
Durasi tidur (jam)
Mean (SD)
Jangkauan
 
59,83 (8,30)
40-74
 
61,60 (8,36)
 40-73
 
.421
Uji X2    df = 1    
 
Pada pengamatan minggu I, meskipun terlihat penurunan frekuensi dan volume regurgitasi yang lebih besar pada kelompok terapi dibanding kelompok kontrol tetapi perbedaan bermakna hanya terlihat pada frekuensi regurgitasi. Meskipun kedua kelompok memperlihatkan kenaikan berat badan yang baik (lebih 1500 gram perminggu), tetapi kenaikan yang lebih besar terlihat pada kelompok terapi sehingga memperlihatkan perbedaan yang bermakna. Sedangkan durasi tidur pada malam hari dari kedua kelompok tidak memperlihatkan perbedaan bermakna (tabel 2)
 
 
 
 
 
 
Tabel 2. Berat badan, frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi dan durasi tidur pada minggu I.
 
 
Variabel
 
Kelompok
 
D
Terapi
(mean)
Kontrol
(mean)
Berat badan (gram)
5.94
5.32
.032*
Frekuensi regurgitasi (x)
22.10
24.95
.012*
Volume rergurgitasi (ml)
66.88
79.13
.134
Durasi tidur (jam)
63.45
61.90
.488
Uji t independen    df = 38      * bermakna
 
Pada pengamatan minggu II, kenaikan berat badan pada kelompok kontrol jauh lebih besar dibanding kelompok terapi sehingga keduanya tidak memperlihatkan perbedaan yang bermakna. Frekuensi dan volume regurgitasi memperlihatkan penurunan yang sama baiknya pada kedua kelompok dibanding periode sebelumnya, sehingga tidak memperlihatkan perbedaan yang bermakna. Durasi tidur pada kedua kelompok juga belum memperlihatkan perubahan dibanding periode sebelumnya. (tabel 3).
 
Tabel 3. Berat badan, frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi dan durasi tidur pada minggu II.
 
 
Variabel
 
Kelompok
 
D
Terapi
(mean)
Kontrol
(mean)
Berat badan (gram)
6.03
5.53
.069
Frekuensi regurgitasi (x)
12.60
14.45
.423
Volume rergurgitasi (ml)
48.88
53.70
.509
Durasi tidur (jam)
63.73
61.90
.322
Uji t independen    df = 38      * bermakna
 
Pada pengamatan minggu III, terlihat kenaikan berat badan dan penurunan frekuensi dan volume regurgitasi pada kedua kelompok dibanding periode sebelumnya, tetapi hasil tersebut tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Durasi tidur pada malam hari juga tidak memperlihatkan perubahan yang bermakna pada kedua kelompok (table 4)
 
Tabel 4. Berat badan, frekuensi regurgitasi, volume regurgitasi dan durasi tidur pada minggu III
 
 
Variabel
 
Kelompok
 
D
Terapi
(mean)
Kontrol
(mean)
Berat badan (gram)
6.24
5.71
.051
Frekuensi regurgitasi (x)
10.60
10.10
.793
Volume rergurgitasi (ml)
39.25
38.06
.854
Durasi tidur (jam)
65.28
63.92
.607
Uji t independen    df = 38      * bermakna
 
Meskipun durasi tidur malam hari pada kedua kelompok tidak memperlihatkan perbedaan yang bermakna sampai akhir pengamatan (minggu III), tetapi ibu mengamati adanya beberapa gejala klinis yang menyebabkan bayi terbangun pada malam hari, yaitu menangis, terkejut, gelisah, dan gumoh. Kejadian gejala klinis tersebut tidak berbeda bermakna pada awal penelitian, tetapi berbeda bermakna pada akhir penelitian dengan jumlah bayi yang lebih sedikit pada kelompok terapi untuk setiap gejala klinis (tabel 5 dan tabel 6)
 
Tabel 5. Perbedaan gejala klinis yang menyebabkan bayi terbangun malam hari pada dua kelompok
 
 
 
Jenis keluhan
Perbedaan kelompok kontrol dan terapi
Sebelum penelitian
Akhir penelitian
df
D
Df
D
Menangis
11
.482
7
.040*
Terkejut
15
.123
7
.007*
Gelisah
14
.262
8
.032*
Gumoh
12
.527
7
.008*
Uji X2         * bermakna
 
 
 
Tabel 6. Gejala klinis yang menyebabkan bayi terbangun pada malam hari pada minggu III
 
 
 Jenis keluhan
Jumlah bayi
Kelompok terapi
Kelompok kontrol
Menangis
14
20
Terkejut
7
18
Gelisah
6
18
Muntah/gumoh
5
18
 
 
Kesimpulan
Terapi sentuhan selama 3 minggu tidak memperlihatkan penurunan frekuensi dan volume regurgitasi yang lebih efektif dibanding kelompok kontrol. Walaupun tidak mempengaruhi durasi tidur, jumlah bayi yang terbangun malam hari pada kelompok terapi lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok kontrol.
 
Ucapan terima kasih
Ucapan terima kasih untuk PT. Johnson & Johnson atas dukungan dana untuk penelitian ini.
 
Saran  
Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar dan lama terapi sentuh lebih lama 
 
Kepustakaan
  1. Vandenplas Y, Lifshitz JZ, Orenstein SR, dkk, Nutritional Management of Regurgitation in Infants, Journal of the American College of Nutrition, Vol. 17, No. 4, 308–316 (1998)
  2. Jung AD, Gastroesophageal Reflux in Infants and Children University of Kansas School of Medicine­Wichita, Wichita, Kansas, American family Physician.Vol 4, No 11 Desember 2001
  3. Orenstein SR, Gastroesophageal Reflux Pediatrics in Review Vol. 20 No. 1 January1999
  4. Hegar B, Boediarso A, Firmansyah A, Vandenplas Y, Investigation of regurgitation and other symptoms of gastroesophageal reflux in Indonesia infants, World J Gastroenterol 2004;10(12): 1795-97
  5. Salvatore S, Hauser B, Vadenplas Y, The natural course of gastro-oesophageal reflux, Acta paediat 2004; 93: 1063-69
  6. Hegar B, Vandenplas Y, Gastro-oesophageal reflux in infancy, Journal of Gastroenterology and Hepatology 1999, 14, 13-19
  7. Arguin AL; Swartz MK; Jackson Allen PL, Gastroesophageal Reflux in Infants: A Primary Care Perspective, Pediatric Nursing; Jan/Feb 2004; 30, 1; hal 45-52
   


Dr. Deddy Satriya Putra, SpA - Penerima Johnson Research Award 2006

Peneliti

Dr. Deddy Satriya Putra, SpA(K)


Alamat :

Jalan Warta Sari No 4 Tangkerang Selatan Pekanbaru 28282
Telp : (0761) 7046469

Fax : (0761) 36533

HP: 085216983733



Kantor :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad / FK-UNRI
Jl. Diponegoro No 2 Pekanbaru
Telp : (0761) 858647


E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


 

Edited and Published by : Klinik Dr. Rocky™

 

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Log in

fb iconLog in with Facebook
create an account